Tampilkan postingan dengan label Kisah Abu Nawas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Abu Nawas. Tampilkan semua postingan

Abu Nawas Selamat Dari Amarah Istri

Abu Nawas Selamat dari Amarah Istri

Diam-diam, ternyata Abu Nawas mempunyai istri yang pencemburu.
Pada ketika Abu Nawas sering pulang larut malam, ia selalu marah-marah.

gbr: YouTube
Pada suatu hari, Abu Nawas keluar rumah hingga larut malam. Hal itu menciptakan istrinya merasa gelisah dan emosi sebab sudah berjam-jam menunggu di rumah. Ia pun tidak dapat tidur gara-gara Abu Nawas yang masih dalam tanda tanya. Bahkan istri Abu Nawas sudah menyiapkan suatu rencana untuk memarahi Abu Nawas ketika beliau pulang nanti.

Waktu pun sudah menawarkan larut malam, begitu gelap, namun Abu Nawas tetap saja tak kunjung kembali pulang. Tiba-tiba saja, dalam kondisi yang menyerupai itu, terdengar bunyi menyerupai orang yang hendak masuk dari jendela rumah yang terbuat dari kayu. Mendengar bunyi itu, istri Abu Nawas pun pribadi siap siaga untuk melancarkan aksinya.

Dipukul Dengan Kayu

Ia menuju jendela sambil memegang sepotong kayu berukuran tidak mengecewakan besar. Ia berfikir bahwa Abu Nawas sengaja masuk rumah melalui jendela sebab takut didamprat istrinya. Tak usang kemudian, masuklah seseorang melalui jendela yang ukurannya relatif kecil.

Dalam kondisi yang gelap, wajah orang tersebut tak kelihatan.
Akan tetapi istri Abu Nawas yang sudah tersulut emosinya pribadi saja memukulkan kayu ke orang tadi. Ia memukul secara membabi buta hingga menciptakan orang yang dikiranya suaminya itu jatuh tak berdaya.

"Ampun... Ampun...," ujar orang tersebut.

Tentu saja sebab pukulan yang membabi buta yang dilakukan istri Abunawas tersebut menciptakan orang tadi terkapar di lanatai. Istri Abu Nawas pun merasa sangat puas dengan tindakannya ini. Ia menganggap bahwa tindakannya setimpal atas kesalahan suaminya, si Abu Nawas.

"Ayo cepat bagun, lain kali jangan diulangi lagi dengan pulang larut malam," kata istri Abu Nawas dengan nada membentak.

Eiit...setelah dinantikan beberapa menit, orang tersebut tak juga bangkit-bangkit. Maka mulailah istri Abu Nawas menjadi penasaran. Dalam pencahayaan yang kurang, ia mencoba melihat dengan seksama orang yang dipukulnya tadi.

Betapa kagetnya istri Abu Nawas, ternyata orang itu bukan suaminya. Ia tak mengenali wajah orang yang dipukulinya. Dalam kondisi itu, istri Abu Nawas menyebut orang itu sebagai seorang pencuri dan berteriak dengan keras.

"Ada pencuri...tolong...toloong...," teriak istri Abu Nawas.

Kontan saja teriakan istri Abu Nawas tersebut menciptakan para warga berhamburan keluar untuk menangkap pencuri. Tak usang kemudian, beberapa warga pergi ke rumah Abu Nawas. Mereka lantas meringkus pencuri yang sudah tidak berdaya di lantai.

Ikut Bangga dan Bersyukur

Para warga pun merasa kaget melihat tragedi itu. Ada seorang pencuri yang ditaklukkan oleh seorang wanita. Pencuri itu babak belur terkena pukulan dari istri Abu Nawas.

"Wah, jago sekalai, pencuri ini hingga terbaring tak berdaya di lantai. Mungkin butuh berminggu-minggu supaya dapat pulih kembali," kata salah satu warga.

"Maaf Pak, saya tak bermaksud menyakitinya, apalgi hingga separah itu. Hanya kekeliruan saja, Pak," kata istri Abu Nawas.
"Keliru bagaimana" tanya warga.
"Waktu itu, ia masuk melalui jendela dapur. Dan saya kira suami saya yang gres pulang berpesta dengan teman-temannya, makanya pribadi saya gebuk," terang istri Abu Nawas.

Tak berapa usang kemudian, Abu Nawas pun tiba ditengah-tengah mereka.
Setelah mendengar dongeng ihwal seorang pencuri yang babak belur dihajar istrinya, ia pun tersenyum kecil dan bersyukur.

"Untung saja bukan saya yang dihajar, makanya jangan main pukul, beginalah akibatnya," kata Abu Nawas.

Namun demikian, Abu Nawas cukup besar hati dengan keberanian istrinya yang mampu melumpuhkan seorang pencuri.

Abu Nawas Menipu Tuhan

Abu Nawas Menipu Tuhan

Setelah para murid Abu Nawas mulai mengerti mengapa pertanyaan yang sama dapat menghasilkan balasan yang berbeda.

gbr: masuk-islam
Murid Abu Nawas bertanya lagi.

"Wahai guru, mungkinkah insan dapat menipu Tuhan?" tanya muridnya.
"Mungkin." jawab Abu Nawas.

"Bagaimana caranya?" tanya si murid penasaran.

"Dengan merayuNya melalui kebanggaan dan doa." jawab Abu Nawas.

"Ajarkan kebanggaan dan doa itu padaku wahai guru." pinta muridnya.

Doa itu adalah:

Ilahi lastu lil firdausi ahla, walaa aqwa 'alan naril jahimi, fahabli taubatan waghfir dzunubi, fainnaka ghafiruz dzanbil 'adhimi" 

Arti doa tersebut adalah:

"Wahai Tuhanku, saya ini sama sekali tidak pantas menjadi penghuni surgaMu, tetapi saya juga tidak tahan terhadap panasnya api neraka. Oleh alasannya yakni itu terimalah taubatku serta ampunilah dosa-dosaku. Karena bahu-membahu Engkaulah Dzat yang mengampuni dosa-dosa besar."

Abu Nawas Menduduki Singgasana Raja

Abu Nawas Menduduki Singgasana Raja

Kecerdikan logika dan pikiran Abu Nawas sudah tersebar di seluruh penjuru kerajaan yang dipimpin oleh Raja Harun Ar-Rasyid. Bahkan raja sendiri pun mengakui kehebatan Abu Nawas hingga mengajaknya tinggal di istana.


gbr: zilzaal

Raja Harun telah memperlihatkan kebebasan kepada Abu Nawas untuk keluar masuk istana tanpa mekanisme yang berbelit. Dengan hadirnya Abu Nawas di istana, maka raja sanggup setiap dikala meminta pertimbangan, pendapat kepada Abunawas dalam setiap keputusannya, sebagai penasehat kerajaan.

Namun, sepertinya kali ini Abu Nawas mulai bosan tinggal di istana, ia tidak terbiasa dengan hidup berfoya-foya. Meskipun semua yang diinginkan selalu tersedia, namun Abu Nawas menentukan ingin tinggal di luar istana, ia rindu sekali untuk menggarap sawah dan merawat binatang ternaknya.

Dari sinilah kenudian muncul dalam pikiran Abu Nawas untuk keluar dari istana. Diputarlah otaknya untuk mencari alasan semoga ia sanggup keluar.

Menduduki Singgasana Raja.

Setelah semalamam dipikirkan, Abu Nawas menemukan cara jitu untuk keluar dari lingkungan istana.

Pada keesokan harinya, ia sengaja berdiri pagi-pagi sekali kemudian pergi ke ruang utama istana. Saat itu suasana masih sepi, hanya terdapat beberapa pengawal. Raja Harun sendiri masih terbaring di daerah tidurnya.

Pada dikala Abu Nawas itulah Abu Nawas mendekati singgasana raja dan mendudukinya. Tak hanya itu saja, Abu Nawas juga mengangkat kaki dan menyilangkan salah satu kakinya seakan-akan dialah rajanya.

Melihat insiden itu, beberapa pengawal kerjaaan terpaksa mengangkap Abu Nawas. Mereka menilai bahwa siapapun tidak berhak duduk di singgasana raja kecuali Raja Harun sendiri.
Barang siapa yang menempati tahta raja, termasuk dalam kejahatan yang besar dan eksekusi mati yang diberikan.
Para pengawal menangkapAbu Nawas kemudian menyeretnya turun dari tahta dan memukulinya.
Mendengar teriakan Abu Nawas yang kesakitan, raja menjadi terbangun dan menghampirinya.
'Wahai pengawal, apa yang kalian lakukan?" tanya raja.
"Ampun Baginda, Abu Nawas telah lancang duduk di singgasana Paduka, kami terpaksa menyeret dan memukulinya," jawab salah seorang pengawal.

Sesaat sesudah itu, Abu Nawas tiba-tiba saja menangis. Tangisannya sengaja ia buat kencang sekali sehingga banyak menyita perhatian penduduk istana lainnya.
"Benarkah yang dikatakan pengawal itu wahai Abu Nawas?" kata Raja Harun.
"Benar Paduka," jawan Abu Nawas.

Tujuan Keluar Istana Tercapai.

Raja sangat terkejut dengan penuturan Abu Nawas itu. kalau sesuai peraturan yang ada, Abu Nawas akan dikenai eksekusi mati. Namun, Raja Harun tak hingga hati melaksanakannya mengingat begitu banyak jasa yang diberikan Abu Nawas kepada kerajaan.

"Sudahlah, tak usah menangis. Jangan khawatir, saya tidak akan menghukummu. Cepat hapus air matamu," ucap sanga raja.
"Wahai Baginda, bukan pukulan mereka yang membuatku menangis, saya menangis alasannya yaitu kasihan terhadap Paduka," kata Abu Nawas yang menciptakan raja tercenganng oleh ucapan itu.
'Engkau mengasihaniku?" tanya Raja Harun.
"Mengapa engkau harus menagisiku?" kata raja lagi.

Harga Diri Raja Tercoreng.

Abu Nawas menjawab,
"Wahai raja, saya cuma duduk di tahtamu sekali, tapi mereka telah memukuliku dengan begitu keras. Apalagi paduka, paduka telah menduduki tahta selama dua puluh tahun. Pukulan menyerupai apa yang akan paduka terima? Aku menangis alasannya yaitu memikirkan nasib paduka yang malang," jawab Abu Nawas.

Jawaban itu menciptakan raja tak sanggup berbuat apa-apa. Ia tak menyangka Abu Nawas menjual harga dirinya di depan banyak pengawal. Oleh alasannya yaitu itu, Raja Harun hanya menghukum Abu Nawas untuk dikeluarkan dari istana.
"Baiklah kalau demikian, mulai detik ini kau harus keluar dari sitanaku," kata raja sedikit geram.

"Terima kasih paduka, memang itulah yang saya kehendaki," balas Abu Nawas sambil menyalami Raja Harun untuk kemudian pamit keluar dari istana.

Kisah Debu Nawas Menangkap Harimau Berjenggot

Kisah Abu Nawas Menangkap Harimau Berjenggot

Pada suatu hari, Raja Harun terlihat gusar seakan menyimpan amarah. Selang beberapa saat, pengawal raja disuruh untuk membawa Abu Nawas ke hadapannya. Abu Nawas dengan senang hati mendapatkan permintaan yang mulia raja. Setelah hingga di hadapan raja, Tuanku Raja Harun memberi perintah dengan lantang.

"Aku ingin sekali melihat harimau berjenggot, dan engkau saya tugaskan untuk menghadirkan harimau berjenggot ke depanku, "titah raja dengan tegas.
"Baiklah yang mulia, saya akan melakukan kiprah ini, "jawab Abu Nawas.

Sudah wajar, Abu Nawas kali ini serius kalau tidak ingin dipenjara. Dia mengetahui bahwa Raja Harun tidaklah main-main. Abu Nawas bisa menangkap impian raja yang tidak masuk nalar ini, apalagi waktu yang diberikan kepadanya hanya delapan hari saja. Oleh sebab itu, Abu Nawas memeras otaknya supaya titah raja bisa terealisasi dengan lancar.

Sesampainya di rumah, Abu Nawas memerintahkan tukang kayu untuk menciptakan sangkar harimau yang kuat. Pengerjaannya berlangsung selam tiga hari dan kesudahannya selesailah sangkar harimaunya, yang belum ada cuma harimau berjenggotnya untuk mengisi sangkar tersebut. Ia berpesan kepada istrinya kalau ada tamu berjenggot yang datang, maka harus duduk di sangkar tersebut.

Berjamaah di Musala

Pada siang itu, Abu Nawas melakukan shalat Zuhur di musala bersahabat kampunya. Selesai shalat berjamaah, Abu Nawas tak segera beranjak dari kawasan duduknya. Akhirnya beliau didatangi oleh sang imam.
"Tumben sekali, Anda shalat berjamaah di sini, "kata sang imam.

Abu Nawas tak eksklusif menjawab, tapi beliau memperlihatkan raut wajah sedih. Ditanya oleh sang imam kenapa bersedih tapi Abu Nawas enggan menjawab, dan barulah sesudah dipaksa mengatakannya, ia menyampaikan kejadian yang bekerjsama kepada sang imam. Sang imam tampak ingin tau sekali dan tak sabar ingin mendengar ceritanya.

"Semalam saya cek cok dengan istri dan akupun bertengkar hebat, sebab itulah saya ingin meninggalkan rumah dan shalat di musala ini, "ujar Abu Nawas.
Lalu sang imam meminta izin Abu Nawas supaya diperbolehkan mendatangi istri Abu Nawas untuk membantu menuntaskan duduk masalah tersebut, dan Abunawas mengizinkan sang imam. Sang imam dengan cekatan menemui istri Abunawas.

"Wahai adinda, buat apa mempunyai suami yang jahat dan miskin, apalagi kehidupan Abu Nawas tidak karuan, jadilah istriku, kau niscaya akan lebih senang dan tidak kekurangan apapun, "ujar laki-laki yang sudah usang menginginkan istri Abu Nawas ini.
"Baiklah, kalau memang itu kehendak Anda, "ujar istri Abu Nawas.

Kandang Berisi Harimau Berjenggot

Namun tak usang kenudia terdengar bunyi pintu diketuk oleh orang, dan dikala itulah sang imam terkejut dan galau harus bersembunyi diman. Namun istri Abu Nawas menyarankan untuk bersembunyi di kamar Abu Nawas yang ada sangkar harimaunya. Masuklah sang imam ke sangkar macan itu kemudian ditutupi kain oleh istri Abu Nawas.

Saat Abu Nawas bertanya kepada istri apa yang ada di sangkar harimau, dijawabnya tidak ada apa-apa. Setelah waktunya tiba, Abu Nawas membawa sangkar harimau beserta imam ke istana dan para penduduk banyak yang menyaksikan sebab ingin tau ibarat apakah wajah harimau berjenggot itu.

Betapa malunya sang imam dengan kejadian ibarat itu, beliau tetap menyembunyikan wajahnya hingga ke hadapan raja. Sang imam semakin aib ketika baginda raja mencoba menatap wajah sang imam dan buang muka ke arah yang berlawanan. 

"Apa-apaan engkau ini Abu Nawas? Kenapa sang imam bisa ada di sangkar ini? "ujar baginda raja.
"Betul Baginda, tahukah Baginda kenapa beliau bisa berada di sangkar ini? "tanya Abu Nawas.

Lalu Abu Nawas menceritakan kronologis kejadiannya. Betapa sang imam semakin menundukkan kepalanya dan Baginda terlihat murka sebab sebagai imam seharusnya beliau bisa memperlihatkan teladan dan teladan kepada warga, sebaliknya kok malah mengganggu istri orang yang merupakan sikap tidak terpuji.

Setelah itu sang imam dicopot dari jabatannya dan Abu Nawas malah diberi hadiah oleh Raja Harun berupa uang emas.

Abu Nawas Dua Kali Terbebas Dari Kematian

Abu Nawas Dua Kali Terbebas dari Kematian

Pada suatu hari Abu Nawas berjalan-jalan hingga hingga di kampung pedalaman. Kampung tersebut berada di kawasan gurun nan jauh dari tempat tinggalnya. Di kampung itu nampak keramaian, dan ternyata ada kerumunan orang yang sedang menciptakan bubur.

Ketika Abu Nawas asyik mengamati suasana, tanpa disadari ada puluhan pasang mata yang mengawasinya. Tidak berapa usang kemudian, Abu Nawas sudah tertangkap dan diikat oleh para penduduk setempat. Lalu ia pun dibawa ke tengah-tengah kerumunan orang yang sedang menciptakan bubur tersebut.

Saat ada seseorang yang membawa golok tajam mendekatinya, Abu Nawas tidak tinggal membisu saja.
"Hei, kenapa saya ditangkap?" tanya Abu Nawas.

Salah seorang dari mereka menjelaskan bahwa setiap ada orang asing, mereka akan menyembelih, kemudian mencampurnya ke dalam gabungan bubur dan memakannya. Mendengar klarifikasi itu, Abu Nawas ketakutan juga. Namun, meski dalam keadaan terjepit, ia masih sempat berpikir dengan jernih.

Abu Nawas akan Dijadikan Campuran Bubur

"Kalian lihat saja, badanku kurus kering, jadi dagingku tidak banyak. Kalau kalian mau, besok saya bawakan temanku yang badannya gemuk sehingga kalian dapat makan untuk lima hari lamanya. Aku janji, maka lepaskan aku, "pinta Abu Nawas.

Karena janjinya itu, balasannya Abu Nawas dilepaskan. Abu Nawas berpikir keras untuk menemukan siasat biar dirinya berhasil membawa sahabat yang gemuk. Terlintas di pikirannya bahwa Sang Raja Harun Ar-Rasyid.
"Seharusnya raja tahu kondisi ini dan alangkah baiknya kalau ia mengetahuinya sendiri,"guma Abu Nawas dalam hati.

Abu Nawas pun segera menghadap Raja Harun. Dengan banyak sekali bujuk rayu, balasannya ia berhasil mengajak raja hanya berdua saja. Sesampainya di kampung pedalaman itu, tanpa banyak bicara, warga eksklusif menangkap raja. Abu Nawas pun segera meninggalkan kampung itu. Dalam hatinya ia berpikir,
"Bila raja pintar,pasti ia akan dapat membebaskan diri, tapi kalau tidak, maka raja akan mati."

Abu Nawas berpikir gambling begitu ya alasannya ialah ia yakin bahwa rajanya cukup cerdas untuk dapat meloloskan diri dari kampung pedalaman itu.

Sementara itu, raja yang sedang ditawan tidak menyangka sama sekali akan disembelih warga kampung pedalaman yang masih merupakan wilayah kekuasaannya. Dalam keadaan takut, raja mempunyai inisiatif juga rupanya.
"Jika menciptakan bubur, dagingku ini tidaklah terlalu banyak alasannya ialah banyak lemaknya. Kalau diijinkan, kalian akan saya buatkan peci kemudian dijual dengan harga jauh lebih mahal daripada harga buburmu itu, "bujuk Raja Harun ke warga kampung pedalaman.

Mereka menyetujui dan meminta raja untuk menuntaskan peci itu. Setelah peci selesai dibuat, raja pun dibebaskan.

Dihukum Gantung

Setelah raja dibebaskan, Abu Nawas segera dipanggil dikarenakan telah berani mencelakakan rajanya sendiri.
"Wahai Abu Nawas, engkau benar-benar telah membahayakan aku, kau harus digantung !"ujar Raja Harun dengan geram.

Namun, Abu Nawas minta diberikan waktu untuk pembelaan dirinya.
"Baiklah, tetapi kalau ucapamu salah, pasti engkau akan dibunuh hari ini juga,"ujar Raja Harun.

"Tuanku, alasan hamba menyerahkan kepada pembuat bubur itu alasannya ialah ingin menunjukkan fakta kepada Paduka. Karena semua tragedi di dalam negeri ini ialah tanggung jawab Paduka kepada Allah SWT kelak. Raja yang adil sebaiknya mengetahui perbuatan rakyatnya, "kata Abu Nawas.

Setelah mendengar pembelaan diri Abu Nawas, Raja Harun Ar-Rasyid menerimanya dan membebaskan Abu Nawas. Setelah itu raja melaksanakan training kepada suku pedalaman tersebut.